Dia selalu menangis di halaman belakang sekolah. Aku tidak tahu
rumah maupun asalnya dimana. Aku selalu penasaran. Pernah sekali aku akan
menghampirinya, tapi teman – temanku selalu saja tiba – tiba menarik tanganku.
Aku pernah menanyakan pada temanku tentang dia. Namun, mereka tidak pernah
memperdulikannya. Sampai akhirnya, aku sudah mendapatkan waktu yang tepat.
∞∞∞
Baru 1 minggu aku menempati rumah ini. Aku baru saja pindah rumah
karena pekerjaan orang tuaku. Dan juga, aku harus meninggalkan teman – temanku.
Sangat berat rasanya untuk meninggalkan. Aku begitu saja meninggalkan kenangan
bersama yang telah kubuat bersama teman – temanku. Aku kesal dan membenci orang
tuaku karena ini. Aku berharap, aku bisa menetap.
Oh iya! Tidak sopan sekali aku sampai lupa memperkenalkan diri.
Namaku Oliver Jeanette. Umurku 14 tahun. Aku adalah anak tunggal. Seperti di katakan
tadi, aku baru saja pindah rumah. Yang berarti juga aku baru saja pindah
sekolah. Sekarang aku menduduki kelas 2 SMP yang bernama SMP Daze. Aku tidak
tahu kenapa nama SMP disini begitu aneh.
Sekarang adalah akhir pekan. Aku masih membutuhkan waktu untuk
beradaptasi disini. Aku masih tidak mengenali tetanggaku dan teman sekolahku.
Jadi, karena dirumahku tinggal aku sendiri, aku berniat untuk mengelilingi
rumah baru dan besar ini. Pertama aku akan mulai dari atas, yaitu loteng. Aku
percaya, pasti lotengnya berantakan dan kotor. Saat keluargaku baru pindah,
kami hanya baru membersihkan dan membereskan lantai 1 dan 2 saja. Belum sampai
ke loteng.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah kakiku menaiki tangga. Aku jadi teringat masa lalu. Saat
ditinggal di rumah, aku selalu takut sendirian. Waktu itu aku sangat takut
tentang hal – hal yang berbau gaib. Tapi ayolah, saat mengingat itu aku selalu
merasa konyol. Manusia itu tidak bisa melihat hantu.
Yah.. sekarang aku ada di depan tangga loteng. Tanpa berfikir
panjang lagi, aku segera menaiki tangga loteng tersebut. Saat sampai diatasnya,
pikiranku hilang sudah tentang loteng kotor dan berantakan itu. Loteng ini
begitu bersih dan tidak ada barang dan juga sangat lah luas. Aku sangat senang
karena mempunyai loteng seluas ini. Aku pun berjalan menyususi loteng tersebut.
∞∞∞
Hari ini giliranku untuk piket. Sebelumnya, aku tidak pernah
mengerjakan tugas piket ini. Saat bel pulang sekolah, aku selalu saja kabur.
Tapi untuk kali ini saja, aku mempunyai rencana. Saat selesai piket, aku akan
pergi ke halaman belakang sekolah untuk menemui “dia”. Aku terheran, kenapa
tidak dari dulu aku memikirkannya. Yah.. sebaiknya aku mulai cepat – cepat
melaksanakan piket terkutuk ini.
∞∞∞
Tap.. tap.. tap..
suara langkah kakiku yang berjalan menyusuri loteng ini masih terdengar.
“Tunggu, sudah berapa lama aku berjalan?!! Aku tidak melihat ujung dari loteng
ini” keluhku kaget. Aku pun melirik jam tanganku. “OH TIDAK! TERNYATA AKU SUDAH
SEHARIAN BERJALAN”teriakku kaget. Aku pun mulai berlari. Dengan perasaan cemas,
aku ingin berbalik arah. Namun aku terpengaruh oleh rasa penasaranku.
∞∞∞
Akhirnya selesai juga..!! “Fiuuhh..” kataku lelah. Aku pun segera
mengambil tasku dan pergi. Aku pun segera pergi ke halaman belakang sekolah.
Aku berharap “dia” masih ada. Tap.. tap.. tap.. tap.. tap.. Langkah kakiku pun
dipercepat karena ketidaksabaranku. Setelah sampai di halaman belakang sekolah,
aku segera menghampiri “dia”.
“Hei.. kenapa kau menangis?” kataku. Ucapanku diabaikan olehnya.
“Em.. aku selalu melihat kamu disini menangis.. ada apa? Dimana rumahmu?”
tanyaku lagi. Tangisannya berhenti, namun dia masih mengabaikanku. Yah memang
sangat mengesalkan saat ada seseorang yang mengabaikan perkataanmu. Namun, aku
tetap tidak menyerah dan berkata,“Hei.. perkenalkan.. namaku Clover, siapa
namamu?”, sambil mengulurkan tangan. Akhirnya, dia mulai membuka mulut dan
berbicara.
“A-Aku tidak tahu rumahku dimana.” katanya. Aku kaget. “Lalu,
bagaimana kau bisa disini?” kataku. Dia pun menjawab, “Waktu aku baru pindah
rumah, aku menjelajahi rumah baruku mulai dari loteng. Lotengnya sangat luas
dan bersih. Aku pun mulai berjalan menyusuri loteng. Sudah seharian aku berjalan,
namun aku tidak tahu ujungnya kemana. Aku pun mulai cemas dan berlari. Lalu,
aku menangkap setitik cahaya. Aku pun mulai mempercepat larianku. Saat
cahayanya makin terlihat, aku sampai di desa. Aku sangat senang waktu itu.
Tapi....” omongannya terputus.“Tapi ada apa?” kataku penasaran.
∞∞∞
Setitik cahayaku tangkap dari mataku. Aku pun mempercepat larianku.
Saat cahaya itu mulai terihat, aku menemukan sebuah desa. Perasaan terkejut dan
senang bercampur aduk. Aku baru saja menemukan penemuan. Aku pun berniat untuk
memberitahukan orang tuaku. Aku pun mulai membalik badan untuk kembali. Namun
lotengnya... menghilang.
∞∞∞
“Tapi... sampai sekarang aku belum kembali.” katanya yang sambil
menolehkan wajahnya yang mengerikan dengan wajah lembam sehabis menangis
bertahun – tahun.
Karya: darkness of happiness
Karya: darkness of happiness
Tidak ada komentar:
Posting Komentar