Rabu, 18 Mei 2016

Tangisan Loteng

Dia selalu menangis di halaman belakang sekolah. Aku tidak tahu rumah maupun asalnya dimana. Aku selalu penasaran. Pernah sekali aku akan menghampirinya, tapi teman – temanku selalu saja tiba – tiba menarik tanganku. Aku pernah menanyakan pada temanku tentang dia. Namun, mereka tidak pernah memperdulikannya. Sampai akhirnya, aku sudah mendapatkan waktu yang tepat.
∞∞∞

Baru 1 minggu aku menempati rumah ini. Aku baru saja pindah rumah karena pekerjaan orang tuaku. Dan juga, aku harus meninggalkan teman – temanku. Sangat berat rasanya untuk meninggalkan. Aku begitu saja meninggalkan kenangan bersama yang telah kubuat bersama teman – temanku. Aku kesal dan membenci orang tuaku karena ini. Aku berharap, aku bisa menetap.
Oh iya! Tidak sopan sekali aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Oliver Jeanette. Umurku 14 tahun. Aku adalah anak tunggal. Seperti di katakan tadi, aku baru saja pindah rumah. Yang berarti juga aku baru saja pindah sekolah. Sekarang aku menduduki kelas 2 SMP yang bernama SMP Daze. Aku tidak tahu kenapa nama SMP disini begitu aneh.
Sekarang adalah akhir pekan. Aku masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi disini. Aku masih tidak mengenali tetanggaku dan teman sekolahku. Jadi, karena dirumahku tinggal aku sendiri, aku berniat untuk mengelilingi rumah baru dan besar ini. Pertama aku akan mulai dari atas, yaitu loteng. Aku percaya, pasti lotengnya berantakan dan kotor. Saat keluargaku baru pindah, kami hanya baru membersihkan dan membereskan lantai 1 dan 2 saja. Belum sampai ke loteng.
Tap.. tap.. tap.. Suara langkah kakiku menaiki tangga. Aku jadi teringat masa lalu. Saat ditinggal di rumah, aku selalu takut sendirian. Waktu itu aku sangat takut tentang hal – hal yang berbau gaib. Tapi ayolah, saat mengingat itu aku selalu merasa konyol. Manusia itu tidak bisa melihat hantu.
Yah.. sekarang aku ada di depan tangga loteng. Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera menaiki tangga loteng tersebut. Saat sampai diatasnya, pikiranku hilang sudah tentang loteng kotor dan berantakan itu. Loteng ini begitu bersih dan tidak ada barang dan juga sangat lah luas. Aku sangat senang karena mempunyai loteng seluas ini. Aku pun berjalan menyususi loteng tersebut.
∞∞∞

Hari ini giliranku untuk piket. Sebelumnya, aku tidak pernah mengerjakan tugas piket ini. Saat bel pulang sekolah, aku selalu saja kabur. Tapi untuk kali ini saja, aku mempunyai rencana. Saat selesai piket, aku akan pergi ke halaman belakang sekolah untuk menemui “dia”. Aku terheran, kenapa tidak dari dulu aku memikirkannya. Yah.. sebaiknya aku mulai cepat – cepat melaksanakan piket terkutuk ini.
∞∞∞

Tap.. tap.. tap.. suara langkah kakiku yang berjalan menyusuri loteng ini masih terdengar. “Tunggu, sudah berapa lama aku berjalan?!! Aku tidak melihat ujung dari loteng ini” keluhku kaget. Aku pun melirik jam tanganku. “OH TIDAK! TERNYATA AKU SUDAH SEHARIAN BERJALAN”teriakku kaget. Aku pun mulai berlari. Dengan perasaan cemas, aku ingin berbalik arah. Namun aku terpengaruh oleh rasa penasaranku.
∞∞∞

Akhirnya selesai juga..!! “Fiuuhh..” kataku lelah. Aku pun segera mengambil tasku dan pergi. Aku pun segera pergi ke halaman belakang sekolah. Aku berharap “dia” masih ada. Tap.. tap.. tap.. tap.. tap.. Langkah kakiku pun dipercepat karena ketidaksabaranku. Setelah sampai di halaman belakang sekolah, aku segera menghampiri “dia”.
“Hei.. kenapa kau menangis?” kataku. Ucapanku diabaikan olehnya. “Em.. aku selalu melihat kamu disini menangis.. ada apa? Dimana rumahmu?” tanyaku lagi. Tangisannya berhenti, namun dia masih mengabaikanku. Yah memang sangat mengesalkan saat ada seseorang yang mengabaikan perkataanmu. Namun, aku tetap tidak menyerah dan berkata,“Hei.. perkenalkan.. namaku Clover, siapa namamu?”, sambil mengulurkan tangan. Akhirnya, dia mulai membuka mulut dan berbicara.
“A-Aku tidak tahu rumahku dimana.” katanya. Aku kaget. “Lalu, bagaimana kau bisa disini?” kataku. Dia pun menjawab, “Waktu aku baru pindah rumah, aku menjelajahi rumah baruku mulai dari loteng. Lotengnya sangat luas dan bersih. Aku pun mulai berjalan menyusuri loteng. Sudah seharian aku berjalan, namun aku tidak tahu ujungnya kemana. Aku pun mulai cemas dan berlari. Lalu, aku menangkap setitik cahaya. Aku pun mulai mempercepat larianku. Saat cahayanya makin terlihat, aku sampai di desa. Aku sangat senang waktu itu. Tapi....” omongannya terputus.“Tapi ada apa?” kataku  penasaran.
∞∞∞

Setitik cahayaku tangkap dari mataku. Aku pun mempercepat larianku. Saat cahaya itu mulai terihat, aku menemukan sebuah desa. Perasaan terkejut dan senang bercampur aduk. Aku baru saja menemukan penemuan. Aku pun berniat untuk memberitahukan orang tuaku. Aku pun mulai membalik badan untuk kembali. Namun lotengnya... menghilang.
∞∞∞

“Tapi... sampai sekarang aku belum kembali.” katanya yang sambil menolehkan wajahnya yang mengerikan dengan wajah lembam sehabis menangis bertahun – tahun.



Karya: darkness of happiness

Tidak ada komentar:

Sonic The Hedgehog