Kisah ini bermula di sebuah tempat
dimana terbentang luas hamparan hijau nan indah, Star Hill. Malam itu tepatnya
Saturday night pukul 20.30 WIB, aku yang seorang gadis periang begitu girangnya
berada di Star Hill ditemani oleh seorang cowok. Ya, dia adalah teman bermain
sekaligus teman belajar, teman curhat, dan bukan teman biasa.
Entah apa yang ada di benakku saat
itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya.
Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin
dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati. Seminggu
sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya
aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.
“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar
dari mulut cowok tampan itu. Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah
dia katakan padaku. “Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di
mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia
ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian,
aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau
ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak, “Sebenarnya
aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin
perasaanku ke kamu sekarang”. Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku
mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan
terbata-bata seperti pasien yang kritis, “Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa…
Aku gak bisa nolak kamu!”. Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.
Keesokan harinya, aku mengawali
Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus
biar sehat!”, kataku sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang
membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua,
yang lain ngontrak. Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya,
dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu
ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan
tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak
diundang, pulang tak diantar). Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah,
aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera
keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.
***
Hari berganti
hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima
kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock
dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea
(naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik
pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa
mendo’akan dan memberikan semangat. Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam,
“Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi
sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.
Suatu hari,
trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya
kebenaran akan kepergiannya ke Korea. “Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani
hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana?
Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku. Aku
ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang
pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan
aku menjadi sedikit lebih tenang. Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus
dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”. “Aku lulus ujian dari sekian puluh
ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang
lebih tiga tahun lamanya”. “Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”. “Nanti
kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku. Kali ini
aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya. “Tapi janji
yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan
menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan
sebelum dan sesudah keberangkatan dia.
***
September kelabu di Jl. Pengantin
Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan
berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi. Setelah
muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu
dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan
serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.
“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu
mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang
tiada henti. Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaahhh!!!
(lambai-lambai tangan)”. Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya
dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.
***
Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang
lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara. “Baik. Bagaimana
kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.Dengan
termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya
Jakarta-Purwokerto?”. Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.
Suatu hari via video call on
facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas
kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia
mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang
pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku. Dengan senang
hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu
waktu dimana aku dibuatnya kesal. “Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”,
kata dia via webcam on Yahoo Messenger. Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar
lagi kita ketemu”. Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis,
jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black. “Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku. Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black. “Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku. Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar,
aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke
dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu
goresanku mengenai seorang dia. Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah Sosok kuat tapi lemah… Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain? Setiap kali aku ingin melepasnya Dia selalu di posisi benteng pertahanan Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya? Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah Dicintainya lebih dari kekuatan apapun Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa.. Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Mampu menopang gundah Sosok kuat tapi lemah… Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain? Setiap kali aku ingin melepasnya Dia selalu di posisi benteng pertahanan Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya? Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah Dicintainya lebih dari kekuatan apapun Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa.. Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Cerpen L.D.R
(Long Distance Relationship), It’s Okay! merupakan cerita pendek karangan Windu
Wulan, kamu dapat mengunjungi halaman
khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.