Pagi yang cerah, hari ini aku ada kegiatan hiking, rasanya malas
sekali untuk pergi tapi dengan tekad dan semangat, akhirnya aku pergi juga
sesampainya di tempat pertemuan, niat ini mulai tergoyahkan dengan melihat
adik-adik smp yang ikut rasanya aku tak mempunyai ruang, teman-teman sebaya ku
menjadi panitia penyelenggara sedangkan aku menjadi anggota, dari situ niat ku
mulai tergoyahkan lagi hampir aku pulang tapi ada Kak Oci yang memberiku
semangat,
“Emil
sayang sudah sampai sini masa mau pulang, entar juga disana banyak temen temen
yang lain” kata Ka Oci.
Akhirnya dengan
karagu-raguan aku pun pergi.
Sesampainya di tempat tujuan aku masuk kelompok yang paling akhir,
ternyata ada 3 orang teman yang umurnya sebaya dengan ku mereka satu kelompok
bersama ku.
Dengan perasaan kosong dan hati yang gelisah aku memulai hiking ini, aku
kelompok paling akhir dengan jumlah yang paling paling banyak kami 13 orang,
pos pertama sudah terlalui pos ke dua pun tak mnyenangkan pos ketiga biasa aja
aku tak menikamti kegiatan nya karena aku memulainya dengan keragu-raguan.
Sesampainya di tempat tujuan memang banyak teman-teman disana tetep saja hati
ini hampa karena aku iri pada kakak panitia yang semuanya rata-rata umurnya
sebaya dengan ku sedang kan aku hanya menjadi anggota.
Tapi aku menikmati pemandangan alamnya mulai dari naik turun bukit melawati
rumah penduduk menyebragi sugai melewati persawahan yang hijau dan menyebragi
jembatan bambu, yang tak terduga aku melihat elang jawa yang sudah langka,
subhanallah indahnya alam ini.Tak terasa waktu sudah sore saat acara telah
selesai dengan rasa lelah cape dan puas aku pun pulang.
Nama ku Emila aku paling tak suka dengan keramaian dan paling ga
bisa kalau untuk mengawali pembicaraan, dan yang paling parah aku orangnya cuek
sama lingkungan itu yang membuat ku tak begitu banyak teman.Terimaksih buat ka
oci yang sudah memberiku semangat dan kaka panitia green C yang sudah
mengadakan acara hiking.
Ke esokan harinya aku sudah mulai berkerja lagi, yah inilah
keseharian ku berangkat kerja pagi pulang sore walau sabtu minggu libur aku
mengisi dengan kegiatan lain agar tidak jenuh.
Siang
saat istirahat setelah selesai makan seperti biasa aku mengambil minum. Secara
tak sengaja aku bertemu dengan kakak panitia hiking yang ternyata dia satu
kerjaan dengan ku. Aku mengambil minum bersama dengan dia memang dia tidak
mengenalku jadi dia tak menyapaku tapi aku tau kalo dia kakak panitia hiking,
aku pun tak menyapanya.
Semenjak bertemu dengannya di tempat kerja aku jadi suka
meliahatnya walau kadang kami sering berpapasan kami tak pernah saling tegur
sapa. Ya itu karena kakak panitia tak mengenal ku, aku juga tak berani tuk
manyapa nya. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan sampai 10 bulan aku hanya
mengaguminya saja walau bertemu pun ak tak berani bertanya.
Hari itu ada perubahan posisi tempat kerja, walau aku tak di pindah
tapi tak ku sangka tempat kerja kakak panitia jadi lebih dekat dengan ku.
Setiap hari aku jadi bisa melihatnya entah sejak kapan aku jadi sering
memperhatikan nya, dia paling sering memaki kaos warna putih, dan yang paling
aku suka dia selalu sholat tepat waktu walau pekerjaan dia numpuk dia tak
peduli jika sudah datang waktu sholat dia tak pernah menunda sholat.
Karena
aku tak berani menyapanya aku meminta tolong kepada kak iyang, dia assisten di
tempat aku kerja aku memang dekat denga ka iyang, dia sudah ku anggap seperti
kakak ku sendiri.
“ka
iyang boleh minta tolong ga?
“minta
tolong apa?”
“ak
mau nitip salam buat kakak yang di sana yang pake koas putih,” kata ku smabil
menunjuk kakak panitia hiking.
“oh
ke dia oke entar di sampein salamnya”
“tapi
ka jangan bilang dari aku”
“kenapa?
kata nya nitip salam”
“malu
kak kan belum kenal”
Ke esokan
harinya kak iyang mendekati ku
“Mil udah di sampaikan salamnya”
“Terus kata dia apa?
“Wa’alaikumsalam, dari siapa?” katanya
“Terus kakak jawab apa?
“Orang nya ga mau di sebuti nama nya”
“Terus dia bilanga apa lagi”
“Dia bilang “memang banyak sih yang nitip salam ke aku””
“Wah yang bener, kak iyang bohong yah”
“Gak ada untungnya kali kakak bohong, nama dia sandi orangnya kalem gak banyak
ngomong terus dia rajin ibadah itu juga kata temen nya”
“Wah aku jadi tambah suka”
“Dasar kamu ini” kata Ka iyang sambil berlalu pergi
Hari sabtu aku bermain ke tempat Ka oci niat nya sih pengen
silahturahmi sambil mau nanya-nanya, siapa tau kak oci kenal sama ka sandi dulu
kan waktu hiking pernah jadi panitia bareng.
“Kak
oci kenal sama ka sandi ga?” Tanya ku
“Kak
sandi yang mana yah?” Jawab ka oci
“Kak
sandi yang pernah ikut jadi panitia haking”
“Owh
ka sandi itu kenal dulu malah penah kerja bareng, kenapa emang, ko tumben
nanyain ka sandi”
“Kak
sandi kan sekarang satu kerjaan sama aku”
“Berarti
sekarang kerja bareng yah, nitip salam yah buat kak sandi”
“Iya
kak besok di sampein salam nya”
Kami pun ngobrol-ngobrol lama sampai ga kerasa waktu sudah sore aku
pun pamit pulang.
Hari senin pagi waktu aku masuk kerja aku sudah siapin beribu
perkataan buat nyampein salam dari ka oci wah gimana nih, sampai siang aku pun
belum berani menyampaikan nya akhir waktu istirahat dengan modal nekad aku
branikan diri untuk menyapanya
“Kak
sandi!” pangil ku
“Iya”
jawab nya
“Kak
ada salam dari ka oci” kata ku
“Wa’alaikumsalam,
siapa yah?”
“Ada
salam ka dari kak oci, kakak kenal ka oci kan?
“Iya
kaka kenal sama kak oci tapi kamu siapa?
Saat ka sandi bertanya seperti itu muka ku memerah malu banget aku
ga tau mau di umpetin kemana ini muka.
“Aku
emil yang pernah ikut hiking dulu”
“Itu
kan dah lama udah ada satu tahun yang lalu”
“Iya
sih”“Kamu juga kerja disini, udah berapa lama?
“Iya
aku kerja disini, udah satu tahun setengah”
“Wah
udah lama juga yah kakak baru satu tahun di sini”
“kirain
dah lama kak, oh iya kak satu lagi,”
“apa?”
“ada
salam dari aku” kataku menutup perbincanganku
“Wa’alaikumsalam”
jawab ka sandi sambil terseyum
Malu banget tapi ada rasa senang juga bisa ngobrol sama ka sandi,
jadi campur aduk rasanya.
Ke esokan harinya aku ketemu sama ka sandi masih aku malah salah
tingkah aku tak berani menyapanya. Saat makan siang pun aku bertemu dengan kak
sandi tak kusangka kak sandi menyapaku
“hay”
kata ka sandi
“hay
juga” kata ku sambil berlalu pergi
Setiap kali aku bertemu kak sandi aku selalu gugup dan salah
tingkah. Aku pun minta pendapat sama kak iyang
“ka setiap kali aku bertemu ka sandi aku selalu gugup jadi salah tingkah”
“kamu gimana sih kata nya suka tapi ko malah kayak ketemu sama musuh ga mau
nanya duluan”
“bingung kak setiap kali deket sama ka sandi, aku ga bisa ngomong apa-apa”
“kata pepatah tak kenal maka tak sayang, mau ngomong juga ga bisa gimana mau
kenal, kalo
ga
kenal berarti ga jadi sayang dong”
“tapi
aku masih tetep suka sama ka sandi”
“kalo
suka langsung bilang aja, daripada menyiksa diri memperhatikan orang yang ga
tau kalo kamu suka ma dia, mendingan langsung ngomong”
“masa
cewe yang ngomong duluan ga berani ka”
“terserah
kamu ajahlah” kata kak iyang sambil berlalu pergi
Dan pada akhirnya aku tak melakukan apa pun aku hanya bisa melihat
dan memperhatikan nya dari jauh tanpa tau bagaimana perasaan dia terhadapku,
aku hanya terdiam saat aku bertemu denganya, aku hanya bisa menyukainya tanpa
tau dia suka padaku atau tidak. Aku hanya bisa mengidolakan dan mengaguminya
dari jauh tanpa tau dia memperhatikan ku atau tidak.
“Buat
kak sandi walau pun aku tak tau perasaanmu tapi aku sudah cukup senang bisa
mengenal mu”
Cerpen Karangan: Emila Rossy
Cerita Pengagum Mu merupakan cerita pendek karangan Emila Rossy, kamu dapat
mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru
buatannya. Ini adalahsalah satu cerpen karangan kak Emila yang aku suka , makanya aku share hehehe :D
Dengan perasaan kosong dan hati yang gelisah aku memulai hiking ini, aku kelompok paling akhir dengan jumlah yang paling paling banyak kami 13 orang, pos pertama sudah terlalui pos ke dua pun tak mnyenangkan pos ketiga biasa aja aku tak menikamti kegiatan nya karena aku memulainya dengan keragu-raguan. Sesampainya di tempat tujuan memang banyak teman-teman disana tetep saja hati ini hampa karena aku iri pada kakak panitia yang semuanya rata-rata umurnya sebaya dengan ku sedang kan aku hanya menjadi anggota.
Tapi aku menikmati pemandangan alamnya mulai dari naik turun bukit melawati rumah penduduk menyebragi sugai melewati persawahan yang hijau dan menyebragi jembatan bambu, yang tak terduga aku melihat elang jawa yang sudah langka, subhanallah indahnya alam ini.Tak terasa waktu sudah sore saat acara telah selesai dengan rasa lelah cape dan puas aku pun pulang.
“Mil udah di sampaikan salamnya”
“Terus kata dia apa?
“Wa’alaikumsalam, dari siapa?” katanya
“Terus kakak jawab apa?
“Orang nya ga mau di sebuti nama nya”
“Terus dia bilanga apa lagi”
“Dia bilang “memang banyak sih yang nitip salam ke aku””
“Wah yang bener, kak iyang bohong yah”
“Gak ada untungnya kali kakak bohong, nama dia sandi orangnya kalem gak banyak ngomong terus dia rajin ibadah itu juga kata temen nya”
“Wah aku jadi tambah suka”
“Dasar kamu ini” kata Ka iyang sambil berlalu pergi
“ka setiap kali aku bertemu ka sandi aku selalu gugup jadi salah tingkah”
“kamu gimana sih kata nya suka tapi ko malah kayak ketemu sama musuh ga mau nanya duluan”
“bingung kak setiap kali deket sama ka sandi, aku ga bisa ngomong apa-apa”
“kata pepatah tak kenal maka tak sayang, mau ngomong juga ga bisa gimana mau kenal, kalo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar